Military and Safety Footwear

Monthly Archives: Juni 2017

Jakarta, CNN Indonesia — Mungkin Anda seorang pencinta sepatu sejati, yang punya sepatu yang berbeda untuk dicocokkan dengan pakaian yang Anda kenakan. Atau Anda mungkin orang  yang selalu menggunakan sepatu yang sama untuk semua kesempatan.

Bagaimanapun perlakukan Anda akan sepatu atau koleksi sepatu Anda, ternyata sepatu punya sejarah unik yang mungkin tak diketahui semua orang. Termasuk bagaimana asal usul sol sepatu merah Louboutin yang akhirnya jadi tren itu. Berikut di antaranya :

1. Pria, bukan wanita yang pertama kali menggunakan heels alias sepatu berhak tinggi.

Seperti dikutip Huffington Post, pada abad ke-10 para pria yang mengendarai kuda membutuhkan sepatu boot dengan hak tinggi untuk tetap bisa meletakkan kaki mereka di sanggurdi. Lantas karena kepemilikan kuda juga  merupakan bukti kekayaan, heels menjadi  tanda dari aristokrasi dan posisi sosial yang tinggi, bukan pembeda gender.

2. Sepatu berhak rendah dulu dikenakan oleh aktor Yunani untuk menunjukkan statusnya.

Saat aktor Yunani kuno mementaskan  drama di panggung, kostum yang mereka gunakan sangat penting bagi penonton untuk mengetahui identitas karakter. Kennedy Center menulis bahwa aktor yang penting biasanya akan mengenakan sepatu yang disebut dengan ‘buskin’, tau sepatu dengan hak datar untuk membedakan dengan aktor komedi yang biasanya hanya menggunakan kaus kaki polos saja.

3.Sepatu bersol karet disebut Sneaker karena tidak menimbulkan bunyi saat melangkah.  

Pada akhir tahun 1800-an, orang mulai suka menyebut sepatu dengan hak karet sebagai sneaker. Alasannya karena sepatu jenis ini memang tak menimbulkan bunyi, seperti layaknya orang yang mengendap-endap atau ‘sneaker’.

4. Sol sepatu merah Louboutin terinspirasi oleh lukisan Andy Warhol.

Seperti ditulis The New Yorker pada tahun 1993, Louboutin ingin membuat sepatu  yang terinspirasi dari lukisan Flower karya Warhol.  Ketika purwarupanya datang, Louboutin tak cukup puas karena merasa ‘gambar Warhol masih lebih kuat’. Lalu dia melihat anak buahnya sedang mencat kuku dengan warna merah. Dia ambil cat kuku itu dan mencat seluruh bagian bawah sepatu dengan warna itu.

5. Gaji Anda menentukan pilihan sepatu yang Anda pakai ke kantor.

Berdasarkan polling dari laman Beso yang dibuat pada tahun 2013, di antara 6.750 wanita, 71 persen dengan pendapatan kurang dari $ 40 ribu setahun jarang menggunakan sepatu heels ke tempat kerja. Sementara 21 persen lainnya yang menghasilkan $ 150 ribu setahun ( atau lebih, cenderung menggunakan sepatu heels tiap hari ke kantor.

6. Lebih banyak orang yang kecanduan membeli sepatu dibanding orang yang membeli sepatu karena tren.  

Dalam wawancara dengan Cosmopolitan pada tahun 2010, Suzanne Ferriss, PhD, dan editor Footnotes: On Shoes, mengatakan kecanduan perempuan akan membeli sepatu memicu area di otak yang disebut oleh prefrontal cortex atau spot kolektor. “Sepatu adalah benda koleksi, baik perempuan sadari atau tidak mereka akan menerima hal ini,” katanya.

7. Aktris Audrey Hepburn adalah sosok pertama yang membuat loafer menjadi tren gaya.

Dulunya loafer adalah sepatu pria, namun Hepburn berhasil membuat sepatu ini sama gayanya untuk perempuan, demikian dicatat oleh Wall Street Journal. Hepburn pertama kali menggunakan sepatu ini di tahun 1957 saat membintangi film Funny Face. Dia menggunakan loafer hitam dari Ferragamos.

8. Dr. Martens awalnya dianggap sebagai sepatu kerja untuk pria yang praktis karena solnya yang berbantalan udara.  

Sepatu Dr. Martens diciptakan oleh penemu Jerman bernama Dr.. Martaens dan temannya Dr. Funck. Lalu sepatu ini dikembangkan oleh Inggris dan dipasarkan tahun 1960. Baru tahun 1970-an sepatu ini populer di Inggris terutama pada kelompok subkultur dan gerakan musik punk.

9. Salvatore Ferragamo membuat sepatu wedges saat Italia sedang menderita karena tertutupnya perdagangan dengan negara lain.

Sepatu wedges dibuat pada tahun  1940-an.  Saat itu Italia sedang menjalani pemboikotan perdagangan. Akibatnya Ferragamo tak lagi bisa mengimpor baja untuk heels traditional. “Saya lalu bereksperimen dengan gabus dan memasangnya di sepatu,” kata Ferragamo. Hanya dalam hitungan minggu sepatu itu jadi benda paling populer di Italia.

Dalam mempersiapkan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) untuk lebih mengenal standar dan khususnya mampu menerapkan Sistem Manajemen Mutu ISO 9001:2008 sehingga lebih berdaya saing, Badan Standarisasi Nasional (BSN) melalui program “Bimbingan Penerapan SNI (ISO 9001:2008) untuk Usaha Mikro Kecil” memberikan hibah kepada Universitas Surabaya (Ubaya) melalui Lembaga Penelitian & Pengabdian Masyarakat (LPPM) untuk melakukan pendampingan kepada 50 UMK di Jawa Timur, selanjutnya 50 UMKM tersebut akan diseleksi oleh BSN untuk mengikuti tahapan pengajuan sertifikasi SNI (ISO 9001:2008). Pendampingan dilakukan oleh 10 tim dari Ubaya dimana setiap tim akan mendampingi lima UMKM dengan komposisi tiap tim terdiri dari 3 anggota yang secara keseluruhan melibatkan sekitar 20 dosen, 5 karyawan dan 5 mahasiswa dari berbagai fakultas.

Dalam keterlibatannya dalam program ini, beberapa dosen Jurusan Teknik Industri (TI) Ubaya seperti Muhammad Rosiawan, Stefanus Soegiharto, Yenny Sari, Arbi Hadiyat, dan Rahman Dwi Wahyudi berperan sebagai Ketua atau Anggota Tim Pendamping. Selain itu, ada empat mahasiswa TI Ubaya (Khanis Christine Falencia, Arif Rachman Halid, Randy Soeyanto dan Cindy), yang terlibat aktif dalam keseluruhan tahapan proses program ini dan menjadikannya sebagai topik penelitian Tugas Akhir. Program pendampingan dan bimbingan penerapan SNI ISO 9001:2008, yang dikoordinir oleh Bapak Muhammad Rosiawan, melibatkan 50 UMK dari berbagai bidang usaha seperti produsen alas kaki, makanan minuman, kerajinan perak, batik, boneka dan kosmetik, yang tersebar di Surabaya, Sidoarjo, Pasuruan, Mojosari, dan Mojokerto.

Program pendampingan ini berlangsung sekitar 5 bulan, dimulai dari Agustus – Desember 2015, tahapannya dimulai dari proses identifikasi kesiapan dan kelayakan UMK untuk ikut dalam program, perancangan Sistem Manajemen Mutu dan dokumentasinya, pelatihan terkait ISO 9001:2008, implementasi, audit internal dan eksternal oleh BSN maupun Lembaga Sertifikasi yang ditunjuk, dan tujuan akhirnya untuk perolehan Sertifikasi ISO 9001:2008. Skema program kerjasama yang sama juga dilakukan BSN dengan lima universitas lain, yaitu Universitas Sriwijaya – Palembang, Institut Pertanian Bogor, Universitas Diponegoro – Semarang, Universitas Jenderal Sudirman Purwokerto dan Universitas Mulawarman – Samarinda. Bersama-sama dengan Ubaya, para universitas ini menyatakan komitmen untuk peningkatan daya saing produk para UMKM melalui implementasi ISO kepada 300 UMKM di seluruh kawasan Indonesia.

Proses pendampingan penerapan ISO 9001: 2008 kepada UMKM tentunya memiliki tantangan tersendiri. Selain upaya membuat pelaku UMKM sadar akan manfaat penerapan ISO 9001:2008 dan konsisten untuk menjalankan rancangan Sistem Manajemen Mutu yang sudah, juga ada resistansi yang muncul dari karyawan yang bekerja pada UMKM tersebut akibat proses audit yang dipersyaratkan maupun keterbatasan kemampuan/latar belakang pendidikan sumber daya manusia yang ada. Namun, berkat komitmen pemilik UMKM dan personal tim pendamping dari Ubaya yang tinggi akhirnya berhasil mengantarkan 4 UMKM mendapatkan Sertifikasi ISO 9001:2008 dari dua lembaga sertifikasi (PT. Mutu Agung Lestari dan SUCOFINDO), keempat UMKM diantaranya adalah:

  1. Alami Apel – Pasuruan, produsen minuman sari apel dengan tim pembimbing Arif Herlambang, Mario Christian
  2.  Al Atthyah, UD – Mojokerto , produsen alas kaki (sandal kulit) dengan tim pembimbing Juliani Dyah Trisnawati, Marselius Sampe Tondok, Aziz Qodri, Arif Rachman Halid
  3. Carita Niaga, CV – Sidoarjo, produsen alas kaki (sepatu kulit) dengan tim pembimbing Muhammad Rosiawan, Hari Hananto, Rahman Dwi Wahyudi, Randy Soejanto
  4. Dede Satoe – Surabaya, produsen aneka sambal & bumbu dengan tim pembimbing Ubaya Yenny Sari, Yenny Sugiarti, Khanis Christine.

Menjelang akhir program pendampingan, 30 November 2015, BSN mengadakan workshop yang diikuti sekitar 50 orang perwakilan dari UMK dam tim pendamping Ubaya dalam rangka sharing forum, dengan pembicaranya oleh Pak Achmad Basuki (Kepala Dinas Koperasi UMKM Jawa Timur), Pak Suprapto selaku Peneliti Madya BSN dan mantan Deputi Kepala BSN Bidang Penerapan Standardisasi & Akreditasi, Pak Muhammad Rosiawan dan Ibu Yenny Sari (perwakilan dari Ubaya). BSN mengapresiasi hasil kerja tim pendamping dari Ubaya, demikian juga para pemilik UMKM melalui beberapa testimoni berikut. (YS)

Ibu Susilaningsih (Dede Satoe)

… Kami atas nama Dede Satoe sangat berterimakasih kepada pendampingan ISO 9001:2008 oleh tim dari UBAYA yang telah bekerja keras tidak kenal waktu dan tidak kenal lelah terus mendampingi kami. Sejak mulai Bulan Agustus sampai Desember 2015 terus membimibing kami, dari mulai tidak tahu apa-apa yang harus dikerjakan dengan Manajemen Mutu. Mengingat tenaga kerja kami baik dilihat dari kualitas maupun kuantitas sangat- sangat kurang. Tapi,  terus dibimbing sampai kami bisa dinyatakan Closed dari ketidaksesuaian Audit ISO 9001: 2008 oleh PT MUTU AGUNG LESTARI. Kami bersyukur luar biasa, tim dari UBAYA mendampingi kami dengan penuh kesabaran, kerja keras, gigih dalam mendampingi kami. Saya pribadi sudah tidak bisa menyampaikan kata- kata lagi, sungguh luar biasa… 

Pak Kuntjoro (Carita Niaga, CV):

….  Melalui penerapan Standar Berbasis Internasional ISO 9001 ini, saya banyak mengambil manfaat dengan rapinya manajemen perusahaan saya, sehingga saya bisa fokus ke hubungan dengan pelanggan dan supplier serta mencari peluang pasar baru di lokal, nasional, bahkan internasional. Demikian juga karyawan merasa jelas dengan tujuan yang dicapai perusahaan dan bagaimana mereka berkontribusi dalam pencapaian tersebut

Last Updated ( Friday, 15 January 2016 17:14 )

a.

Bangsa Indonesia patut bangga dengan kemajuan industri persenjataan nasional, kalau kita mencermati pameran industri pertahanan berskala internasional, Indo Defence 2016 Expo awal bulan ini yg menampilkan berbagai produk untuk pertahanan udara, laut dan darat.

Di level bawah, kita juga harus bangga karena ada pelaku usaha tergolong UKM seperti CV Carita Niaga, Sidoarjo, Jatim yang memproduksi sepatu untuk militer dan kepolisian. Jadi urusan pertahanan juga UKM terlibat menjadi satu kesatuan kekuatan dan menuju kemandirian. Mempunyai 2 pabrik dan uniknya sebagian dikerjakan di rumah penduduk sehingga tidak saja memperkerjakan orang di pabrik tetapi juga memberi kesibukan masyarakat sekitar. Belakangan ini terasa sekali produksinya semakin lancar setelah menerapkan sistem management mutu SNI ISO IEC 9001.

Sukses dan maju terus… BSN hadir untuk SNI Produknya